Perundingan Di Istanbul Membawa Kemajuan Menuju Perdamaian Rusia Dan Ukraina

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menekankan dalam pidato video bahwa tidak ada kompromi dalam kedaulatan dan integritas wilayah Ukraina.

Pernyataan itu muncul sebagai tanggapan atas negosiasi antara delegasi Ukraina dan delegasi Rusia.

“Tentu saja Ukraina siap untuk bernegosiasi dan akan melanjutkan proses negosiasi. Itu sepenuhnya terserah kami. Kami berharap mendapatkan hasil,” kata Zelenskyy.

“Harus ada keamanan nyata bagi kami, untuk negara, untuk kedaulatan kami dan untuk rakyat. Tentara Rusia harus meninggalkan wilayah pendudukan dan kedaulatan dan integritas wilayah Ukraina harus dijamin,” katanya.

“Tidak ada kompromi dalam kedaulatan dan integritas teritorial kami. Ini adalah prinsip yang jelas dan visi yang jelas tentang kemungkinan hasil,” kata Zelensky.

Dalam pidatonya pada Rabu (30/03/2022) yang mengutip laman Ukrinform, ia menekankan bahwa sinyal yang terdengar di platform negosiasi dapat dianggap positif.

“Tapi mereka [Rusia] tidak membungkam ledakan peluru yang ditembakkan oleh tentaranya,” kata Zelenskyy.

Menurutnya, Ukraina dapat melihat semua bahaya dan tidak akan percaya apa yang dikatakan Rusia.

Zelensky juga berbicara kepada pengguna media sosial yang secara aktif mendiskusikan potensi bahaya dari apa yang diumumkan delegasi Ukraina untuk mengatur situasi militer.

“Saya ingin mengingatkan satu hal, kita ini hidup di negara demokrasi dan berjuang untuk kebebasan kita, untuk kebebasan bagi rakyat kita. Oleh karena itu, setiap keputusan yang penting bagi semua rakyat kita, harus dibuat bukan oleh satu orang atau sekelompok orang dengan pandangan politik tertentu apapun, namun oleh semua rakyat kita, orang-orang bijak Ukraina,” kata Zelensky.

Negosiasi sebelumnya antara Ukraina dan Rusia di Istanbul, Turki menunjukkan hasil positif.

Moskow telah berjanji untuk menangguhkan kegiatan militer di Kiev dan Chernihiv.

BACA JUGA  Ketua Satgas Covid-19: Segera Terbit Aturan Perjalanan Mudik Lebaran 2022

Pada pertemuan lanjutan pada Selasa (29/03/2022), kedua pihak sepakat untuk mulai menyusun perjanjian damai.

Kedua pihak juga dijadwalkan bertemu. Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy untuk menandatangani perjanjian damai.

Wakil Menteri Pertahanan Rusia Alexander Formin mengatakan bahwa operasi militer terhadap ibu kota Kiev dan Chernihiv Ukraina utara pada dasarnya akan dihentikan.

Formin mengatakan kepercayaan diperlukan untuk membangun rasa saling percaya dan menciptakan prasyarat untuk negosiasi di masa depan.

Komentar Furmin menunjukkan keinginan Rusia untuk membatasi invasi besar-besaran ke Ukraina yang dimulai pada 24 Februari.

Sebelumnya, pejabat militer Rusia sebelumnya mengumumkan akhir pekan lalu pembebasan wilayah Donbas timur, invasi fase kedua yang difokuskan untuk mengurangi atau menghentikan operasi militer di Ukraina tengah.

Komando militer Ukraina memantau penarikan pasukan Rusia dari sekitar Kiev dan Chernihiv menjelang perundingan di Istanbul.

“Berdasarkan fakta bahwa persiapan kesepakatan tentang netralitas dan status non-nuklir Ukraina dan negosiasi jaminan keamanan untuk Ukraina telah berubah menjadi masalah substantif berdasarkan prinsip-prinsip yang dibahas sejauh ini. Pada pertemuan hari ini (di Istanbul), Kementerian Pertahanan Federasi Rusia memutuskan untuk menangguhkan kegiatan militer di Kyiv dan Chernikhv dari waktu ke waktu, pada dasarnya untuk meningkatkan rasa saling percaya dan menciptakan kondisi yang diperlukan untuk negosiasi lebih lanjut,” ujar Formin, dikutip oleh Associated Press. 

Sementara itu, delegasi Rusia Vladimir Medinsky mengatakan kedua pihak menempuh pembicaraan substansial di Istanbul.

Medinsky mengatakan kedua pihak telah sepakat untuk mulai menyusun perjanjian yang akan menyatukan kedua kepala negara.

Namun, detail kesepakatan tersebut masih perlu dibahas lebih lanjut.

“Semakin cepat kesepakatan diimplementasikan, semakin dekat peluang perdamaian,” kata Medinsky.

BACA JUGA  Ford Akan Luncurkan Model Mobil Listrik Baru Di 2024

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan sebagai salah satu mediator bahwa pertemuan di Istanbul telah berhasil membuat kemajuan yang paling berarti, karena delegasi Rusia-Ukraina berbagi konsensus dan saling pengertian.

Sementara Rusia mencari status netral dan non-nuklir dari Ukraina, Kiev mencari jaminan keamanan, termasuk yang melibatkan negara anggota NATO.

Meskipun Kiev tidak menjadi anggota, ia berusaha untuk menyegel jaminan keamanan NATO yang serupa dengan Pasal 5 perjanjian dengan Rusia.

Sementara itu, nasib Krimea dan Donbass juga masih tidak diketahui.

Kiev ingin wilayahnya dianeksasi dan dibebaskan, dengan dukungan Rusia, untuk tetap menjadi wilayah Ukraina.

Namun, diketahui bahwa Kremlin tidak ingin meninggalkan Krimea, Donetsk, atau Luhansk.

Setelah pembicaraan di Istanbul, Cavusoglu mengatakan dia akan mengangkat masalah yang masih sulit untuk diputuskan ke tingkat yang lebih tinggi.

Dia juga mendesak kedua belah pihak untuk segera menyetujui perjanjian gencatan senjata untuk membuka saluran bantuan kemanusiaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.